14 October 2007

Rukyat Hilal Syawal 1428 H

Kamis 11/10/2007 saya mengikuti kegiatan Rukyat Hilal Syawal 1428 H di bukit Syeikh Bela-belu Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Pada kegitan Rukyat Hilal kali ini yang datang cukup banyak, mereka terdiri dari Tim Rukyah Hilal dari BHR (Badan Hisab Rukyat) Depag DIY, Ormas Islam seperti NU, UIN, UII, Tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam, dan masyarakat yang peduli lainnya.


Acara diawali dengan sambutan dari BHR Depag DIY, gubernur DIY, Ahli Falak NU, Pakar Falak DIY dan diakhiri do’a.


Dari lokasi ini, semua peserta yang hadir sangat banyak, namun tidak satu pun yang berhasil melihat Hilal Muda 1 Syawwal 1428 H. Keputusannya bulan Ramadhan 1428 H digenapkan menjadi 30 hari.



Walaupun saya mengikuti rukyat dan yakin kalau bulan Ramadhan digenapkan 30 hari (Istikmal) namun saya melaksanakan Sholat Idul Fitri pada hari Jum’at 12/10/2007. Ya karena mau tidak mau saya lebih enak mengikuti masyarakat sekitar, apalagi saya juga ingin agar persatuan diantara saudara seiman tetap terlaksana. Tapi kedepan nanti saya mempunyai harapan agar masyarakat disekitar lebih memahami kaidah-kaidah penentuan awal dan akhir bulan Hijriah berdasarkan dalil Qur’an dan sunnah. Bukannya hanya ikut-ikutan tanpa tau alasan yang pasti.



Pada dasarnya dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan Rosul SAW dengan tegas dan jelas memberikan pelajaran kepada kita umat Islam secara mudah dapat dikerjakan oleh semua orang, inilah ciri khas ajaran Islam, hal ini telah diamalkan/dipraktekkan Rosulullah SAW, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it –Tabi’in, sampai pada para Imam yang empat serta para salafus sholih dan ulama-ulama yang benar benar konsekwen mengikuti sunah Rosulullah SAW. Yaitu bahwa awal dan akhir Ramadhan ditentukan oleh “RU’YATUL HILAL” tidak dengan cara-cara lain hasil dari rekayasa manusia. Hilal dianggap sebagai pertanda awal bulan jika telah terlihat dan diberitahukan kepada pihak lain, bukan dalam hitungan (hisab). (dikutip dari: artikel Menentukan Awal-Akhir Ramadhan/ http://pakarfisika.wordpress.com/)


12 October 2007

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1428 H Jatuh Pada Sabtu, 13 Oktober 2007

Jakarta 11/10 (Pinmas) - Pemerintah melalui Sidang Itsbat menetapkan hari raya Idul Fitri 1428 Hijriyah jatuh pada Sabtu, 13 Oktober 2007. Keputusan tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Agama No 109 tahun 2007 tertanggal 11Oktober 2007 tentang Penetapan 1 Syawal 1428 H.
“Pemerintah dalam menetapkan awal Syawal selalu memperhatikan kesejukan dan kedamaian sehingga terwujud persatuan dan kesatuan,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni yang memimpin sidang tersebut di operation room Departemen Agama, Kamis (11/10) malam.

Sidang Itsbat yang digelar di Depag itu dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kardiman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amien, para wakil umat Islam lain dari NU, Muhammadiyah, Persis, DDII, DMI dan lain-lain serta para duta besar dan perwakilan Negara-negara Islam.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat yang juga Direktur Urusan Agama Islam Depag, Muchtar Iljas yang menyampaikan hasil rukyat menyatakan dari hasil pemantauan di 40 lokasi dari Banda Aceh hingga Jayapura semua melaporkan tidak melihat hilal (bulan).

“Ijtima (pertemuan akhir bulan dan awal bulan baru) menjelang syawal jatuh pada Kamis, 11 Oktober atau 29 Ramadhan pukul 12.02 WIB sehingga saat matahari terbenam posisi hilal di sebagian wilayah Indonesia Timur hilal masih dibawah ufuk, kecuali di Indonesia bagian Tengah dan Barat sudah diatas ufuk antara 0 derajat 30 menit sampai 0 derajat 45 menit,” katanya.

Dengan demikian bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) dan 1 syawal jatuh pada Sabtu 13 Oktober 2007. Sementara PP Muhammadiyah dengan maklumatnya telah menetapkan tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.

Sementara itu Menteri Komunikasi dan Teknologi Muhammad Nuh mengatakan, melihat hasil pemantauan yang dilakukan secara teknologi posisi hilal tidak terlihat. Dengan demikian tinggal ditetapkan oleh sidang itsbat.

Menjawab permintaan MUI agar pemerintah memfasilitasi alat teropong yang lebih canggih, ia mengatakan, pada saat sekarang ini alat teropong yang dipergunakan sudah cukup. Namun ia tidak memungkiri pada masa mendatang diperlukan alat teropong yang lebih canggih lagi.

Ditempat yang sama Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Suwito Suprayogi, Lc mengatakan, pihaknya mengikuti hasil keputusan sidang itsbat yang dilakukan 11 Oktober oleh Depag ini. “Di Arab Saudi juga menurut hisab lebaran akan jatuh pada hari Sabtu,” ujarnya. (ks)
(sumber: situs Departemen Agama RI)

10 October 2007

Meluruskan Arah Kiblat

Pada tahun ini panitia RAMDIKA (Ramadhan di Karangasem 1428 H) Masjid Al Ikhlash dan Al Jihad Karangasem Santren akan menyelenggarakan sholat Idul Fitri bersama. Lokasi untuk sholat Idul Fitri di sepanjang Jl. Boegenvile (Jl. Selokan Mataram - Barat Jl. Affandi) Karangasem. Setelah musyawarah bersama oleh panitia RAMDIKA dan berdasar maklumat yang dikeluarkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No: 03/MLM/1.0/ E/2007, sholat Idul Fitri bersama di Karangasem akan dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal 1428 H yang jatuh pada hari Jum’at, 12/10/2007.

Dari salah satu persiapan penyelenggaraan sholat Idul Fitri di tanah lapang hal yang paling pokok adalah pembuatan shaff yang sesuai dengan arah Kiblat, karena menghadap arah Kiblat dalam sholat merupakan syarat sahnya sholat, sebagaimana dalil-dalil syar’i yang ada.

Surah Al-Baqarah ayat 149 :
Artinya :"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat) hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah). Sesunggunya perintah berkiblat ke Ka'bah itu benar dari Allah (tuhanmu) dan ingatlah Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan".

Surah Al-Baqarah ayat 150:
Artinya: "Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan solat) maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah) dan dimana sahaja kamu berada maka hadapkanlah muka kamu ke arahnya, supaya tidak ada lagi sebarang alasan bagi orang yang menyalahi kamu, kecuali orang yang zalim diantara mereka (ada saja yang mereka jadikan alasannya). Maka janganlah kamu takut kepada cacat cela mereka dan takutlah kamu kepada-Ku semata-mata dan supaya Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kamu, dan juga supaya kamu beroleh petunjuk hidayah (mengenai perkara yang benar)".

Dari Abu Hurairah R.A.
"Dari Abu Hurairah ra katanya : Sabda Rasulullah saw. Di antara Timur dan Barat terletaknya kiblat ( ka'bah ) ".

Dari Anas bin Malik R.A.
"Bahwasanya Rasullullah s.a.w (pada suatu hari) sedang mendirikan solat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turunlah ayat Al-Quran: "Sesungguhnya kami selalu melihat mukamu menengadah ke langit (berdoa mengadap kelangit). Maka turunlah wahyu memerintahkan Baginda mengadap ke Baitullah (Ka'bah). Sesungguhnya kamu palingkanlah mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Kemudian seorang lelaki Bani Salamah lalu, ketika itu orang ramai sedang ruku' pada rakaat kedua shalat fajar. Beliau menyeru, sesungguhnya kiblat telah berubah. Lalu mereka berpaling ke arah kiblat". (diriwayatkan Oleh Muslim)

Bagi orang-orang di kota Mekah dan sekitarnya suruhan demikian ini tidak menjadi persoalan, karena dengan mudah mereka dapat melaksanakan suruhan itu. Namun bagi orang-orang yang jauh dari Mekah tentunya timbul permasalahan tersendiri, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang cukup menghadap arahnya saja sekalipun kenyataannya salah, ataukah harus menghadap ke arah yang sedekat mungkin dengan posisi ka’bah yang sebenarnya.

Dari Yogyakarta-Indonesia yang posisinya berada di luar negara Arab Saudi, untuk menentukan arah kiblat dapat menggunakan ijtihad. Diantaranya adalah ijtihad menggunakan posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam dan perhitungan segitiga bola maupun pengukuran menggunakan peralatan modern.

Berkenaan dengan upaya untuk berijtihad dalam menentukan arah Kiblat dari shaff sholat Idul Fitri di Jl. Boegenvile, beberapa orang panitia RAMDIKA (Mas Abdullah/Gus Dur, Mas Topik, dan kawan-kawan dari takmir Masjid Al Ikhlas/Al Jihad) dibantu oleh Tim Pengukur Arah Kiblat dari Lembaga RHI : Rukyatul Hilal Indonesia yaitu: Bapak Muthoha Arkanuddin (Koordinator RHI); Bapak Drs. Sofwan Jannah, M.Ag (Pembina RHI) dan Agus Triawan-JAC (Anggota) telah melakukan pengukuran arah Kiblat di lokasi tersebut pada hari Ahad, 7/10/2007 sekitar pukul 10.00 WIB.

Sebelum melakukan pengukuran arah Kiblat untuk shaff sholat Idul Fitri, panitia RAMDIKA dan Tim Pengukur Arah Kiblat dari Lembaga RHI pada pukul 09.30 WIB mencoba melakukan pengukuran ulang Arah Kiblat Bangunan Masjid (ABM) Al Ikhlas. Setelah diukur menggunakan kompas didapat hasil angka ABM = 286 derajat, sedangkan angka arah Kiblat Kompas yang benar adalah 294,7 derajat atau dibulatkan menjadi 295 derajat. Dengan demikian arah bangunan masjid masih melenceng kurang dari arah Kiblat sebesar angka simpangan arah kiblat (S) = 9 derajat.

Dari angka simpangan arah kiblat (S) itu digunakan untuk membuat tanda arah Kiblat dimasjid, yaitu dengan cara memasukkan angka simpangan arah kiblat (S) derajat tersebut kedalam rumus trigonometri sederhana (Cotangen S). Sehingga diperoleh hasil Ctg 9 derajat = 6,3 yang artinya setiap 6,3 meter searah bangunan ada simpangan sebesar 1 meter pada arah tegak-lurusnya atau setiap 6,3 keramik (ukuran 30x30 cm) searah bangunan ada simpangan sebesar 1 keramik pada arah tegak-lurusnya. Untuk membuat shaff maka angka ini dibalik yaitu setiap 1 meter arah bangunan ada simpangan sebesar 6,3 meter pada arah tegak-lurusnya atau setiap 1 keramik arah bangunan ada simpangan sebesar 6,3 keramik pada arah tegak-lurusnya.



Kemudian setelah pengukuran ulang Arah Bangunan Masjid Al Ikhlas dilanjutkan pengukuran arah Kiblat untuk shaff sholat Idul Fitri di Jl. Boegenvile. Teknik dan peralatan yang digunakan untuk mengukur pun sama dengan pengukuran di Masjid. Setelah kompas dipasang di lokasi dengan letak di atas beberan sudut selanjutnya dicari arah mata angin utara sejati dan barat sejati. Arah barat sejati adalah lurus dengan angka sudut 270 derajat sedangkan arah utara sejati lurus dengan angka 360 derajat atau 0 derajat pada kompas. Karena arah Kiblat Kompas adalah 295 derajat maka dari arah barat sejati hanya kurang 25 derajat. Kemudian dibuat garis shaff sholat yang lurus arah kiblat dengan menarik garis tegak lurus dari arah kiblat kompas, yaitu garis yang memotong sudut plus 25 derajat dari arah utara sejati dan memotong sudut plus 25 derajat dari arah selatan sejati. Penarikan garis ini digunakan bantuan benang yang terikat pada titik pusat beberan sudut, benang berfungsi sebagai perpanjangan jarum kompas. Lalu tanda garis shaff dicatkan pada permukaan jalan mengikuti arah jalur benang.

Setelah kurang lebih setengah jam berjemur di bawah terik sinar matahari akhirnya pengukuran shaff untuk sholat Idul Fitri ini berakhir pukul 10.30 WIB. Dengan begitu, karena arah shaff sholat sudah mengarah pas ke Kiblat semoga para Jamaah sholat Idul Fitri nanti dapat khusuk menjalankan ibadah sholatnya.
________________________________________________________________________________________________