Selasa, 23 Januari 2007

Latihan Rukyat Bersama "1 Muharram 1428 H" (JAC-CASAC-CASA)

Sabtu sore 20 Januari 2007 (1Muharram 1428 H) saya dan teman-teman dari Jogja Astronomi Club (JAC), SMA KOLOMBO, Pondok Pesantren Modern As-Salam Solo pergi ke pantai Parangkusumo. Tujuan saya dan teman-teman ke sana tak lain adalah untuk latihan bersama-sama rukyat (observasi) hilal yang merupakan penentu awal bulan Hijriyyah. Bersamaan dengan itu saya mendapat kesempatan menikmati saat matahari tenggelam (sunset) di ufuk barat dari laut yang indah.

"Jangan engkau memulai berpuasa hingga engkau melihat hilal, dan jangan engkau berbuka hingga engkau melihat hilal juga. Jika hilal itu terhalang bagimu (tertutup awan) maka perkirakanlah ia.”

Hadist di atas itu merupakan dasar hukum dalam menetapkan awal bulan hijriyyah. Berdasarkan konsep penanggalan hijriyyah satu bulan itu terdiri dari 29 hari dan hari ke 30 merupakan hari tambahan yang bisa ada dan bisa juga tidak ada. Lha ada tidaknya hari ke 30 itu ditentukan oleh tampak dan tidak tampaknya hilal pada pada tanggal 29 itu. Hilal sendiri itu berwujud sebuah sabit bulan pertama yang terlihat setelah ijtima’ (konjungsi) terjadi. Jika hilal tampak maka hari itu juga telah masuk tanggal 1 dan jika tidak tampak maka dalam satu bulan akan terdiri dari 30 hari.

Bila dilihat dari sisi keilmuan, penanggalan hijriyyah yang berdasar siklus penampakan bulan dalam mengelilingi Bumi, diperoleh data kalo bulan mengelilingi bumi selama 29,53 hari. Hal ini menyebabkan satu bulan takwim bisa berlangsung selama 29 atau 30 hari. Dalam astronomi, sistem penanggalan berdasar pada penampakan bulan itu dibilang sistem Lunar Calender.

Untuk mempermudah pelaksanaan rukyat hilal paling tidak harus tahu posisi hilal yang akan dirukyat dan waktu ijtima’. Hal itu dirasa penting sebab penampakan bulan berubah-ubah dari hari ke hari. Maka dari itu perlu memanfaatkan kecermatan perhitungan astronomi yang akurat untuk membantu mengetahui posisi hilal dan waktu ijtima’. Sistem perhitungan astronomi ini disebut dengan sebutan HISAB.

Untuk itu bisa dikatakan bahwa penggunaan hisab tanpa rukyat hanya akan melahirkan tukang hisab bukan ahli hisab apalagi ahli falak. Begitu juga rukyat tanpa hisab tidak akan memberikan nilai tambah apapun. Rukyat dan Hisab bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan yang dalam astronomi dikenal sebagai observasi dan teori (pemodelan) yang mau dan tidak mau harus dilakukan untuk mencari satu nilai kriteria visibilitas hilal. Sehingga penetapan awal bulan akan memiliki karakter sains (ilmu pengetahuan).

Dalam latihan rukyat hilal kali ini kebetulan cuaca kurang mendukung, awan yang menyelimuti langit barat semakin sore semakin tebal. Apabila sore itu tidak mendung sangat mungkin hilal teramati karena di hari kedua itu ketinggian hilal sudah mencapai 14o 50’. Selain itu bila langit barat cerah maka akan terlihat juga komet McNaught (C2006 P1) yang kebetulan sedang melintas di sistem tatasurya dalam kita menjahui matahari, komet ini mulai terlihat sejak 12 Januari dan berakhir 22 Januari 2007.

Sebagai panduan untuk mengetahui posisi hilal dan waktu ijtima’ digunakan software simulasi Starry Inight Pro Plus 6 yang sudah terinstall pada laptop. Dengan software ini kami tidak perlu pusing-pusing dan repot menghisab posisi bulan dan waktu ijtima’ secara manual karena kemampuan software tersebut untuk menjejak dan memperlihatkan posisi hilal serta benda-benda angkasa lainnya sangat akurat dan sudah teruji dengan mencocokkan terhadap fenomena alam secara langsung.

Perlengkapan lainnya yang digunakan untuk membantu latihan rukyat ini adalah binokuler dan kamera tele yang telah di pasang CCD peka cahaya yang terhubung ke laptop. Kamera tele yang telah di pasang CCD peka cahaya berfungsi untuk membantu me-tracker posisi hilal yang cahayanya redup sebelum dilihat dengan mata telanjang. Namun karena cuaca mendung hilal tidak mungkin terlihat.

Sebelum kegiatan observasi / rukyat hilal berlangsung peserta diberi penjelasan sedikit mengenai pengetahuan seputar rukyat hilal. Kemudian setelah itu peserta di arahkan ke tempat pengamatan hilal. Waktu terbaik untuk pengamatan / rukyat hilal adalah 20 menit setelah matahari terbenam (sunset) karena sinar matahari sudah tidak mengganggu. Namun karena cuaca mendung itu hilal tidak mungkin terlihat walau dipaksakan hingga mata melotot.

Ya begitulah dalam menjalankan kegiatan astronomi kita harus selalu lapang dada untuk menerima segala kekecewaan atas kegagalan dalam observasi apalagi dimusim penghujan. Setelah sholat magrib acara dilanjutkan nonton bareng film / video pengetahuan astronomi sebagai penutup acara hingga ba’da Isya’.  
Foto-fotonya ni >>>>


Na itu lah foto-foto kegiatannya......

0 komentar: