Jumat, 30 Maret 2007

GUNUNG KRAKATAU

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toha dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit.

Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat. Sains dan teknologi berkembang. Telegraf sudah ditemukan dan kabel bawah laut sudah dipasang sehingga teknologi informasi saat itu sedang tumbuh dan berkembang pesat. Tercatat, letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut.


LETUSAN KRAKATAU DINGINKAN BUMI

MESKI meletus lebih dari seratus tahun lalu, pengaruh letusan Gunung Krakatau masih dirasakan umat manusia hingga sekarang. Letusan Krakatau diyakini telah mendinginkan suhu atmosfer lebih dari seabad. Keyakinan tersebut didasarkan atas hasil analisis para ilmuwan yang dipimpin Peter Gleckler, ahli iklim dari Lawrence Livermore National Laboratory, California, AS, yang dimuat dalam jurnal Nature.

Letusan Krakatau pada 1883 menyemburkan 25 kilometer kubik batu dan abu vulkanik ke udara, suara yang menggelegar, dan gempa yang dahsyat. Abu vulkanik yang mengisi atmosfer Bumi menghalangi pancaran cahaya Matahari selama berbulan-bulan bahkan tahun, jauh lebih lama dari perkiraan. Hal tersebut mendinginkan permukaan air laut yang pengaruhnya terasa sampai ratusan tahun.

Peter dan timnya membandingkan model iklim jangka panjang yang membandingkan kondisi tanpa adanya letusan dan dengan letusan Krakatau. Mereka terkejut sebab aktivitas tersebut menurunkan suhu global yang dirasakan lebih dari satu abad setelah terjadinya letusan. "Gunung punya pengaruh yang besar. Suhu lautan dan tinggi permukaannya akan naik lebih tinggi jika tidak terjadi letusan," kata Peter. Menurut Peter, pengaruhnya sangat dirasakan terutama selama abad ke-20. Sebab, meningkatnya kandungan gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan suhu atmosfer semakin tinggi.
Dalam satu dekade terakhir, suhu air laut rata-rata meningkat sekira 0,037 oCelcius.

Peter Gleckler bersama para peneliti AS dan Inggris lainnya juga mempelajari pengaruh letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Namun, letusannya yang hebat tidak menimbulkan efek sekuat Krakatau. Kemungkinan, pengaruh gas rumah kaca pada 1991 jauh lebih besar daripada 1883. Dengan temuan ini, ia berharap para ilmuwan memperhatikan dengan lebih cermat faktor letusan gunung berapi dalam membuat pemodelan iklim. Meskipun demikian, lanjut Peter, kita tidak mungkin mengandalkan letusan gunung untuk mencegah tren pemanasan global dan naiknya permukaan laut.(de/NewScientist.com)***


baca juga di:
http://volcano.und.edu/vwdocs/volc_images/southeast_asia/indonesia/krakatau.html
http://volcano.und.edu/vwdocs/current_volcs/krakatau/krakatau.html

0 komentar: